Minggu, 24 Juni 2018

Aliran filsafat dalam pembelajaran di kelas



Video Pembelajaran Tematik Kelas I


Video pembelajaran tersebut termasuk filsafat progresivisme karena dalam proses pembelajaran tersebut guru membuat dan memanfaatkan media pembelajaran untuk menarik minat peserta didik dalam belajar. Kemudian guru juga menarik perhatian peserta didik dengan menggunakan topi dan kacamata ketika memasuki kelas dan hal tesebut dapat menimbulkan respon dari peserta didik. Di tengah pembelajaran guru juga menggunakan strategi bermain (Games) dimana dengan strategi tersebut membuat peserta didik lebih tertarik dan lebih aktif dalam pembelajaran. Strategi permainanini juga dapat memudahkan peserta didik dalam memahami materi yang sedang diajarkan oleh gurunya. Dan terlihat sekali dalam pembelajaran tersebut peserta didik merasa senang selama proses pembelajaran berlangsung.

Kelebihan
Guru dapat membuat peserta didik tertarik untuk belajar dan strategi permainan tersebut dapat memudahkan peserta didik dalam memahami materi yang sedang diajarkan. Peserta didik pun merasa sangat menikmati dan antusias dalam proses pembelajaran.

Kekurangan
Masih terlihat peserta didik yang kurang kondusif pada saat permainan belajar berlangsung. Ini dapat dihindari jika guru tersebut memberi peraturan sikap pada saat permainan dilakukan jadi tidak hanya peraturan cara melakukan permainan saja yang diberikan.

Video pembelajaran PKN Kelas IV

 
Video pembelajaran tersebut termasuk filsafat progresivisme dan eksistensialisme. Progresivisme karena dalam pembelajaran tersebut guru sudah mengikuti perkembangan zaman dengan menggunakan teknologi yaitu laptop dan peserta didik diberi tugas untuk berdiskusi. Eksistensialisme karena peserta didik diberi kebebasan dalam mengutarakan pendapatnya , dengan begitu akan meningkatkan intelektual mereka dan pemikiran mereka lambat laun akan bagus.

Kelebihan
Guru dapat membangun semangat peserta didik dalam belajar dengan ice breaking menggunakan video musik dan menari. Di tengah pembelajaran guru tersebut juga menggunakan metode diskusi, hal tersebut dapat membuat peserta didik lebih kritis dalam berpendapat. Diakhir pembelajaran guru memberi pertanyaan dan yang dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan benar maka dapat pulang terlebih dahulu. Dengan adanya pertanyaan tersebut mampu menggali kembali ingatan mereka tentang materi yang diajarkan sebelumnya.

Kekurangan
Dengan menggunakan laptop saja maka yang dapat melihat dengan jelas hanya peserta didik yang duduk dibagian depan saja, efeknya yang duduk dibagian belakang harus maju ke depan agar melihat lebih jelas. Mungkin akan lebih bagus jika menggunakan proyektor dan LCD agar semua peserta didik dapat melihat dengan jelas. Dan dalam berlangsungnya proses diskusi masih banyak peserta didik yang kurang kondusif, seperti mengobrol dengan temannya, tidak fokus dalam berdiskusi dan sebagainya. Hal tersebut dapat dihindari jika guru dapat mengkondisikan peserta didik dengan mendampingi mereka. Untuk gurunya menurut saya terlalu banyak karena yang aktif dalam menyampaikan materi hanya dua orang saja dan satunya hanya diam, jadi dua saja itu sudah cukup dan itupun dapat dibagi tugas misalnya ada yang bagian menyampaikan materi dan ada yang bagian mengkondisikan kelas serta dapat bergantian.

Ide-ide untuk meningkatkan kualitas pembelajaran

Video pembelajaran PKN Kelas IV

Dalam pembelajaran tersebut sudah bagus, mungkin akan lebih baik lagi jika menggunakan proyektor dan LCD. Dengan hal tersebut akan memudahkan peserta didik dalam belajar dan proses pembelajaran akan berlangsung dengan efektif pula. Dan dalam menyampaikan pendapat dalam satu kelompok, alangkah lebih bagus jika semua juga ikut menyampaikan pendapatnya jadi tidak satu orang saja. Dengan begitu semuanya juga akan berpikir kritis. Kelemahan diskusi pasti kurang kondusifnya peserta didik, nah maka dari itu guru harus mampu mengkondisikan peserta didik agar proses diskusi dapat berjalan dengan lancar. Dan akan lebih asyik jika beberapa waktu dari pembelajaran di lakukan di luar kelas dengan begitu peserta didik akan melihat realita yang sebenarnya. Misalnya peserta didik di ajak untuk keluar kelas dan mencari contoh realita dari globalisasi di daerah sekitar sekolah.





AnalisisKegiatanPembelajarandenganPemikiranFilsafatPendidikandari    Ki Hajar Dewantara, Paulo Freire, Ivan Illich, dan Driyarkara
No
Butir-Butir Pemikiran

Deskripsi Kegiatan Pembelajaran dalam Tayangan Video yang Relevan & Kurang Relevan dengan Pemikiran Tsb
Ide-Ide Agar Pembelajaran Relevan dengan Pemikiran Tsb
Ki Hajar Dewantara
1.    
Sistem Among atau mengasuh
Guru membimbing peserta didik layaknya orang tua


2.    
Tut Wuri Handayani (guru diharapkan dapat memberikan dorongan moral semangat kepada peserta didik)
Guru terus membimbing dalam belajar baik peserta didik yang normal maupun yang berkebutuhan khusus

3.    
Konsep kekeluargaan : pendidikan dilakukan dalam suasana kekeluargaan
Kelas dibuat layaknya dirumah dan guru membimbing seperti orang tua mereka

4.    
Pembelajaran problem solving
Peserta didik melakukan diskusi dalam pembelajaran

5.
Konsep trisentra (keluarga, sekolah, masyarakat) semua pendidikan yang di dapat dari asal manapun harus baik
Pembelajaran di dalam kelas seperti berdiskusi dan pembelajaran diluar kelas seperti wawancara dengan pembuat batu bata







AnalisisKegiatanPembelajarandenganPemikiran Para Ahli Pendidikan
No
Butir-ButirPemikiran

DeskripsiKegiatanPembelajarandalamTayangan Video yang Relevan&KurangRelevandenganPemikiranTsb
Ide-Ide Agar PembelajaranRelevandenganPemikiranTsb
Paulo Freire
1.  .
Menjadikan guru sebagai teman siswa

Disaat istirahat guru ikut rebahan bersama peserta didik di kelas



2.   
Memberikan pendidikan yang merata untuk semua kalangan masyarakat
Tak hanya memberi pendidikan kepada peserta didik yang normal saja tetapi juga kepada yang berkebutuhan khusus

3.   
Menghilangkan penindasan dan diganti “Humanisasi” untuk segala umat manusia
Dicampurnya antara peserta didik normal dengan peserta didik yang berkebutuhan khusus dalam satu kelas

4.   
Pembelajaran problem solving
Peserta didik melakukan diskusi dalam pembelajaran

5.
Menghadapkan dan membuat siswa paham akan realita yang sesungguhnya
Peserta didik mewawancarai seorang pembuat batu bata




Analisis Kegiatan Pembelajaran dengan Pemikiran Para Ahli Pendidikan
No
Butir-ButirPemikiran

DeskripsiKegiatanPembelajarandalamTayangan Video yang Relevan&KurangRelevandenganPemikiranTsb
Ide-Ide Agar PembelajaranRelevandenganPemikiranTsb
Ivan Illich
1.                 
Peringkat dan kompetensi itu merugikan

Dalam pendidikan tersebut tidak ada peringkat , semua anak itu juara sesuai kemampuannya



2.                 
Tidak ada jarak antara pendidikan dan kehidupan
Pembelajaran berasa di rumah

3.                 
Pendidikan memberi kesempatan semua orang untuk bebas dan mudah memperoleh sumber belajar pada setiap saat
Pembelajaran didalam kelas ataupun di luar kelas (diskusi, wawancara, dll)

4.                 
Tujuan pendidikan adalah pengembangan diri
Peserta didik menjadi lebih berani untuk bertanya pada seseorang (wawancara)

...







Analisis Kegiatan Pembelajaran dengan Pemikiran Para Ahli Pendidikan
No
Butir-ButirPemikiran

DeskripsiKegiatanPembelajarandalamTayangan Video yang Relevan&KurangRelevandenganPemikiranTsb
Ide-Ide Agar PembelajaranRelevandenganPemikiranTsb
N. Driyarkara
1.       
Pendidikan dan kehidupan adalah 2 konsep yang tidak dapat dipisahkan
Peserta didik belajar seperti belajar di rumah sendiri


2.       
Manusia sebagai makhluk yang bebas
Peserta didik dapat benyanyi, menari tertawa bahkan dalam berpendapat

3.       
Pendidikan nasional yang adil
Guru membimbing peserta didik sesuai kemampuan mereka

4.       
Pendidikan yang memperlakukan siswa sebagai manusia yang bermartabat
Guru selalu semangat dalam membimbing peserta didiknya

5.
Pendidikan karakter menjadi penting dalam pendidikan yang tidak diskriminatif
Kelas campur antara peserta didik normal dengan yang berkebutuhan khusus


Saran
Jika saya menjadi guru dalam sekolah tersebut, menurut saya dalam pembelajaran tersebut kurang dalam penggunaan teknologinya jadi saya akan menambahkan penggunaan LCD dan proyektor. Dengan adanya hal tersebut akan memudahkan peserta didik dalam memahami materi yang diajarkan serta akan lebih menarik perhatian peserta didik karena pada seusia seperti mereka masih senang menonton dan mendengarkan lagu, tidak hanya itu gunanya teknologi tersebut juga dapat digunakan dalam awal pembelajaran misalnya memutarkan video musik (ice Breaking), hal itu akan membuat peserta didik semangat dalam memulai pembelajaran.


Kesimpulan
Video pembelajaran tersebut termasuk filsafat progresivisme dan eksisitensialisme. Progresivisme karena dalam pembelajaran tersebut peserta didik sudah ada yang diberi permasalahan untuk mereka pecahkan atau mencari solusinya. Contoh dalam tanyangan tersebut seperti diskusi berkelompok dan juga wawancara kepada seorang yang membuat batu bata, hal tersebut dapat mengasah pemikiran mereka untuk lebih kritis. Eksistensialisme karena mereka diberi kebebasan untuk merasakan pembelajaran di dalam kelas dan pembelajaran di luar kelas, dengan begitu mereka akan mempunyai pengalaman baru serta dapat pengetahuan yang baru.
Dilihat dari pembelajaran di sekolah tersebut menurut saya video tersebut terdapat banyak mengikuti para ahli filsafat pendidikan, tapi video tersebut lebih menonjol kepada pemikiran dari Ki Hajar Dewantara dan Paulo Freire. Ki Hajar Dewantara karena dalam pembelajaran tersebut guru membimbing peserta didik seperti layaknya orang tua, hal ini sangat mirip dengan pemikiran Ki hajar Dewantara yaitu sistem Among atau mengasuh dan konsep kekeluargaan. Pembelajaran tersebut juga mirip dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yaitu Tut Wuri Handayani dimana guru terus semangat membimbing peserta didiknya baik peserta didik yang normal maupun peserta didik yang berkebutuhan khusus. Paulo Freire karena dalam pembelajaran tersebut terlihat sekali guru terus mendampingi dan membimbing peserta didiknya tanpa harus melihat kekurangan mereka dan itu mirip dengan pemikiran Paulo freire yaitu memanusiakan manusia (Humanisasi). Dan didalam pembelajaran tersebut terlihat bahwa peserta didik diberi permasalahan untuk mereka selesaikan seperti diskusi dan wawancara dengan seorang pembuat batu bata, hal ini cocok dengan pemikiran dari Paulo Freire yaitu pembelajaran problem solving. Pembelajaran di luar kelas juga cocok sekali dengan pemikiran dari paulo Freire yaitu menghadapkan dan membuat siswa paham akan realita sesungguhnya. Sekolah yang menerima peserta didik yang normal dan peserta didik yang berkebutuhan khusus itu juga cocok dengan pemikiran dari Paulo Freire yaitu memberikan pendidikan yang merata untuk semua kalangan masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar